A. Pembahasan
A.1.Perekonomian
Indonesia tahun 1900-2000
Bidang
perekonomian, perekonomian merupakan suatu bidang kegiatan manusia dalam rangka
mencukupi kebutuhannya disamping alat pemuas kebutuhan yang terbatas. Hal
tersebut dalam ilmu ekonomi menyangkut berbagai bidang antara lain permintaan,
penawaran, produksi, distribusi barang dan jasa. Bidang ekonomi tidak bisa
dilepaskan dengan factor-faktor lainnya yang saling berkaitan. Perekonomian
selain berkaitan dengan wilayah geografi suatu Negara, juga sumber kekayaan
alam, sumber daya manusia, cita-cita masyarakat yang lazimnya disebut ideology,
akumulasi kekuatan, kekuasaan, serta kebijaksanaan yang akan diterapkan dalam
kegiatan produksi dan distribusi, nilai social budaya, serta pertahanan dan
keamanan yang memberikan jaminan lancarnya roda kegiatan ekonomi suatu bangsa.
Proses tersebut akan mempunyai dampak positif dalam arti meningkatkan
kesejahteraan suatu banga manakala kegiatan ekonomi itu terselenggara dalam
posisi keseimbangan antara permintaan dan penawaran, produksi, distribusi
barang dan jasa.
Salah
satu faktor yang mempengaruhi perekonomian adalah inflasi, dampaknya adalah
melemahnya daya beli masyrakat, lesunya investasi sehingga mengakibatkan
pertumbuhan perekonomian menjadi terhambat. Dampak Inflasi memiliki dampak
positif dan dampak negatif- tergantung parah atau tidaknya inflasi. Apabila
inflasi itu ringan, justru mempunyai pengaruh yang positif dalam arti dapat
mendorong perekonomian lebih baik, yaitu meningkatkan pendapatan nasional dan
membuat orang bergairah untuk bekerja, menabung dan mengadakan investasi.
Sebaliknya, dalam masa inflasi yang parah, yaitu pada saat terjadi inflasi tak
terkendali (hiperinflasi), keadaan perekonomian menjadi kacau dan perekonomian
dirasakan lesu. Orang menjadi tidak bersemangat kerja, menabung, atau
mengadakan investasi dan produksi karena harga meningkat dengan cepat. Para
penerima pendapatan tetap seperti pegawai negeri atau karyawan swasta serta
kaum buruh juga akan kewalahan menanggung dan mengimbangi harga sehingga hidup
mereka menjadi semakin merosot dan terpuruk dari waktu ke waktu. Bagi
masyarakat yang memiliki pendapatan tetap, inflasi sangat merugikan. Kita ambil
contoh seorang pensiunan pegawai negeri tahun 1990. Pada tahun 1990, uang
pensiunnya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, namun di tahun 2003 -atau
tiga belas tahun kemudian, daya beli uangnya mungkin hanya tinggal setengah.
Artinya, uang pensiunnya tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
A.2. Pengetian Inflasi
Menurut Parkin
dan Bade inflasi adalah pergerakan
ke arah atas dari tingkatan harga. Secara mendasar ini berhubungan dengan
harga, hal ini bisa juga disebut dengan berapa banyaknya uang (rupiah) untuk
memperoleh barang tersebut.
Ada tiga komponen yang harus dipenuhi agar dapat dikatakan
telah terjadi inflasi, menurut Prathama dan Mandala (2001:203) adalah:
1. Kenaikan harga
1. Kenaikan harga
Harga suatu komoditas dikatakan
naik jika menjadi lebih tinggi darpada harga periode sebelumnya.
2.
Bersifat umum
Kenaikan harga suatu komoditas
belum dapat dikatakan inflasi jika kenaikan tersebut tidak menyebabkan harga
secara umum naik.
3. Berlangsung
terus menerus
Kenaikan harga yang bersifat umum
juga belum akan memunculkan inflasi, jika terjadi sesaat, karena itu
perhitungan inflasi dilakukan dalam rentang waktu minimal bulanan.
A.3. Ukuran
Inflasi
Ada
beberapa cara untuk mengukur inflasi. Inflasi utama adalah angka inflasi baku
seperti yang dilaporkan melalui Indeks Harga Konsumen (IHK) atau dalam bahasa
luarnya Consumer Price Index (CPI). Biro Statistik merilis angka IHK bulanan.
Angka ini menghitung biaya untuk membeli sejumlah barang sebagai cara untuk
menentukan berapa banyak inflasi yang terjadi dalam ekonomi secara luas sebagai
persentase kenaikan tahunan. Misalnya, angka inflasi 3% setara dengan tingkat
bulanan, jika diulang selama 12 bulan, akan menciptakan inflasi 3% untuk tahun
ini.
Angka
inflasi tidak disesuaikan dengan perubahan musiman dalam perekonomian atau
untuk yang lebih sering unsur harga pangan dan energi yang volatile. Inflasi
utama adalah ukuran yang memiliki arti terbesar bagi konsumen, karena kita
harus makan dan mengisi bahan bakar.
Inflasi
inti, yang merupakan tolok ukur yang disukai bank sentral, adalah ukuran
inflasi yang tidak termasuk makanan dan energi. Inflasi inti menghilangkan
barang-barang ini karena mereka dapat memiliki guncangan harga sementara yang
dapat menyimpang dari tren inflasi secara keseluruhan dan memberikan apa yang
pandangan bias pada bank sentral sebagai ukuran inflasi. Inflasi inti paling
sering dihitung dengan mengambil Indeks Harga Konsumen dan tidak termasuk
barang-barang tertentu (biasanya energi dan produk makanan). Metode lain
termasuk perhitungan metode outlier, yang menghilangkan produk yang telah
memiliki perubahan harga terbesar. Inflasi inti diperkirakan menjadi indikator
yang mendasari inflasi jangka panjang.
Beberapa variasi pada inflasi
juga perlu diperhatikan. Hiperinflasi adalah inflasi yang luar biasa cepat dan
tinggi. Dalam kasus ekstrim, hal ini dapat menyebabkan kerusakan sistem moneter
suatu negara. Salah satu contoh yang paling menonjol dari hiperinflasi terjadi
di Jerman pada tahun 1923, ketika harga naik 2.500% dalam satu bulan, juga pada
beberapa Negara Afrika seperti Zimbabwe beberapa tahun yang lalu.
Stagflasi adalah kombinasi dari
tingginya angka pengangguran dan stagnasi ekonomi dengan inflasi. Hal ini
terjadi di negara-negara industri pada 1970-an, ketika ekonomi yang buruk
dikombinasikan dengan kenaikan harga minyak OPEC. Di ujung lain dari spektrum
adalah deflasi, yang terjadi ketika tingkat harga umum jatuh. Ini adalah
kebalikan dari inflasi.
B. Efek Inflasi
Efek
inflasi sangat luas dan beraneka ragam serta menurunkan tingkat kesejahteraan
hidup masyarakat. Laju tingkat pertumbuhan inflasi yang tinggi akan merusak
struktur ekonomi dan melemahkan kinerja perekonomian suatu negara.
Menurut Nopirin (1987 : 32)
inflasi mempunyai efek sebagai berikut :
a.
Efek terhadap pendapatan ( Equity
Effects)
Efek
inflasi terhadap pendapatan bersifat tidak merata, ada yang mengalami kerugian
terutama mereka yang berpenghasilan tetap dan ada pula kelompok yang mengalami
keuntungan dengan adanya inflasi. Inflasi menguntungkan masyarakat yang
pendapatannya ikut naik dengan adanya kenaikan harga, tetapi merugikan golongan
masyarakat yang mempunyai pendapatan tetap. Hal ini disebabkan pada masa
inflasi harga barang-barang dan jasa-jasa naik yang berarti turunnya nilai
uang. Pihak-pihak yang mendapatkan keuntungan dengan adanya inflasi adalah mereka
yang memperoleh kenaikan pendapatan dengan persentase yang lebih besar dari
laju inflasi, atau mereka yang mempunyai kekayaan bukan uang dimana nilainya
naik dengan persentase lebih besar dari laju inflasi.
b.
Efek terhadap efisiensi ( Efficiency
Effects)
Inflasi
dapat pula mengubah pola alokasi faktor-faktor produksi. Perubahan ini dapat
terjadi melalui kenaikan permintaan akan berbagai macam barang yang kemudian
dapat mendorong terjadinya perubahan dalam produksi beberapa barang tertentu.
Dengan adanya inflasi permintaan akan barang tertentu mengalami kenaikan yang
lebih besar dari barang lain, yang kemudian mendorong kenaikan produksi barang
tersebut. Kenaikan produksi barang ini pada gilirannya akan merubah pola
alokasi faktor produksi yang sudah ada.
c.
Efek terhadap output ( Output Effects )
Apabila
laju inflasi sangat tinggi (hyper inflation) dapat menyebabkan penurunan
output. Dalam keadaan inflasi yang tinggi, nilai uang riil turun dengan
drastis, masyarakat cenderung tidak menyukai uang kas, transaksi mengarah
ke barter, yang biasanya diikuti dengan turunnya produksi barang.
B. Dampak Inflasi terhadap Perekonomian
Dampak
inflasi terhadap perekonomian yang pada akhirnya akan berpengaruh kepada
tingkat kemakmuran masyarakat, berikut ini dampak negatif dari inflasi:
1. Terhadap
distribusi pendapatan ada pihak-pihak yang dirugikan, diantaranya
a.
Inflasi akan merugikan bagi mereka yang berpendapatan tetap, seperti; pegawai
negeri. Contoh, amir seorang pegawai negeri memperoleh gaji Rp.
60.000.000 setahun dan laju inflasi 10%. Bila
penghasilan Amir tidak mengalami perubahan, maka ia akan mengalami penurunan
pendapatan riil sebesar 10% x Rp. 60.000.000 = Rp.
6.000.000.
b. Kerugian
akan dialami bagi mereka yang menyimpan kekayaan dalam bentuk uang tunai.
c.
Kerugian akan dialami para kreditur, bila bunga pinjaman yang diberikan lebih
rendah dari inflasi.
Di lain pihak ada yang
diuntungkan dengan adanya inflasi:
- Orang yang persentase pendapatannya melebihi persentase kenaikan inflasi
- mereka yang memiliki kekayaan bukan dalam bentuk uang tunai, tetapi
- Orang yang persentase pendapatannya melebihi persentase kenaikan inflasi
- mereka yang memiliki kekayaan bukan dalam bentuk uang tunai, tetapi
dalam bentuk barang atau emas.
2. Dampak
terhadap efisiensi, berpengaruh pada:
a.
Proses produksi dalam penggunaan faktor-faktor produksi menjadi tidak efesien
ada saat terjadi inflasi.
b. Perubahan
daya beli masyarakat yang berdampak terhadap struktur permintaan masyarakat
terhadap beberapa jenis barang.
3. Dampak
inflasi terhadap output (hasil produksi):
a.
Inflasi bisa menyebabkan kenaikan produksi. Biasanya dalam keadaan inflasi
kenaikan harga barang akan mendahului kenaikan gaji, hal ini yang
menguntungkan produsen.
b. Bila
laju inflasi terlalu tinggi akan berakibat turunnya jumlah hasil produksi,
dikarenakan nilai riil uang akan turun dan masyarakat tidak senang
memiliki uang tunai, akibatnya pertukaran dilakukan antara barang
dengan barang.
4. Dampak
inflasi terhadap pengangguran
Suatu negara yang berusaha
menghentikan laju inflasi yang tinggi, berarti pada saat yang sama akan
menciptakan pengangguran.
C. Kesimpulan
Jadi
dapat disimpulkan bahwa suatu perekonomian dapat perekonomian adalah perekonomian
merupakan suatu bidang kegiatan manusia dalam rangka mencukupi kebutuhannya
disamping alat pemuas kebutuhan yang terbatas. Hal tersebut dalam ilmu ekonomi
menyangkut berbagai bidang antara lain permintaan, penawaran, produksi,
distribusi barang dan jasa.
Inflasi
adalah suatu gejala naiknya harga secara terus-menerus (berkelanjutan) terhadap
sejumlah barang. Kenaikan yang sifatnya sementara tidak dikatakan inflasi dan
kenaikan harga terhadap satu jenis komoditi juga tidak dikatakan inflasi.
Daftar Pustaka : http://www.anneahira.com/kondisi-perekonomian-indonesia-saat-ini.htm
ADINDA
RIZKI MENTARI ( 4EB18 / 20210166 )