Kamis, 05 Juni 2014

A.I ( TUGAS 3 )


A.  Pembahasan
A.1.Perekonomian Indonesia tahun 1900-2000
Bidang perekonomian, perekonomian merupakan suatu bidang kegiatan manusia dalam rangka mencukupi kebutuhannya disamping alat pemuas kebutuhan yang terbatas. Hal tersebut dalam ilmu ekonomi menyangkut berbagai bidang antara lain permintaan, penawaran, produksi, distribusi barang dan jasa. Bidang ekonomi tidak bisa dilepaskan dengan factor-faktor lainnya yang saling berkaitan. Perekonomian selain berkaitan dengan wilayah geografi suatu Negara, juga sumber kekayaan alam, sumber daya manusia, cita-cita masyarakat yang lazimnya disebut ideology, akumulasi kekuatan, kekuasaan, serta kebijaksanaan yang akan diterapkan dalam kegiatan produksi dan distribusi, nilai social budaya, serta pertahanan dan keamanan yang memberikan jaminan lancarnya roda kegiatan ekonomi suatu bangsa. Proses tersebut akan mempunyai dampak positif dalam arti meningkatkan kesejahteraan suatu banga manakala kegiatan ekonomi itu terselenggara dalam posisi keseimbangan antara permintaan dan penawaran, produksi, distribusi barang dan jasa.
Salah satu faktor yang mempengaruhi perekonomian adalah inflasi, dampaknya adalah melemahnya daya beli masyrakat, lesunya investasi sehingga mengakibatkan pertumbuhan perekonomian menjadi terhambat. Dampak Inflasi memiliki dampak positif dan dampak negatif- tergantung parah atau tidaknya inflasi. Apabila inflasi itu ringan, justru mempunyai pengaruh yang positif dalam arti dapat mendorong perekonomian lebih baik, yaitu meningkatkan pendapatan nasional dan membuat orang bergairah untuk bekerja, menabung dan mengadakan investasi. Sebaliknya, dalam masa inflasi yang parah, yaitu pada saat terjadi inflasi tak terkendali (hiperinflasi), keadaan perekonomian menjadi kacau dan perekonomian dirasakan lesu. Orang menjadi tidak bersemangat kerja, menabung, atau mengadakan investasi dan produksi karena harga meningkat dengan cepat. Para penerima pendapatan tetap seperti pegawai negeri atau karyawan swasta serta kaum buruh juga akan kewalahan menanggung dan mengimbangi harga sehingga hidup mereka menjadi semakin merosot dan terpuruk dari waktu ke waktu. Bagi masyarakat yang memiliki pendapatan tetap, inflasi sangat merugikan. Kita ambil contoh seorang pensiunan pegawai negeri tahun 1990. Pada tahun 1990, uang pensiunnya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, namun di tahun 2003 -atau tiga belas tahun kemudian, daya beli uangnya mungkin hanya tinggal setengah. Artinya, uang pensiunnya tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
A.2.     Pengetian Inflasi
Menurut Parkin dan Bade inflasi adalah pergerakan ke arah atas dari tingkatan harga. Secara mendasar ini berhubungan dengan harga, hal ini bisa juga disebut dengan berapa banyaknya uang (rupiah) untuk memperoleh barang tersebut.
Ada tiga komponen yang harus dipenuhi agar dapat dikatakan telah terjadi inflasi, menurut Prathama dan Mandala (2001:203) adalah:                        
1. Kenaikan harga
Harga suatu komoditas dikatakan naik jika menjadi lebih tinggi darpada harga periode sebelumnya.
2. Bersifat umum       
Kenaikan harga suatu komoditas belum dapat dikatakan inflasi jika kenaikan tersebut tidak menyebabkan harga secara umum naik.
3. Berlangsung terus menerus
Kenaikan harga yang bersifat umum juga belum akan memunculkan inflasi, jika terjadi sesaat, karena itu perhitungan inflasi dilakukan dalam rentang waktu minimal bulanan.
A.3. Ukuran Inflasi
Ada beberapa cara untuk mengukur inflasi. Inflasi utama adalah angka inflasi baku seperti yang dilaporkan melalui Indeks Harga Konsumen (IHK) atau dalam bahasa luarnya Consumer Price Index (CPI). Biro Statistik merilis angka IHK bulanan. Angka ini menghitung biaya untuk membeli sejumlah barang sebagai cara untuk menentukan berapa banyak inflasi yang terjadi dalam ekonomi secara luas sebagai persentase kenaikan tahunan. Misalnya, angka inflasi 3% setara dengan tingkat bulanan, jika diulang selama 12 bulan, akan menciptakan inflasi 3% untuk tahun ini.
Angka inflasi tidak disesuaikan dengan perubahan musiman dalam perekonomian atau untuk yang lebih sering unsur harga pangan dan energi yang volatile. Inflasi utama adalah ukuran yang memiliki arti terbesar bagi konsumen, karena kita harus makan dan mengisi bahan bakar.
Inflasi inti, yang merupakan tolok ukur yang disukai bank sentral, adalah ukuran inflasi yang tidak termasuk makanan dan energi. Inflasi inti menghilangkan barang-barang ini karena mereka dapat memiliki guncangan harga sementara yang dapat menyimpang dari tren inflasi secara keseluruhan dan memberikan apa yang pandangan bias pada bank sentral sebagai ukuran inflasi. Inflasi inti paling sering dihitung dengan mengambil Indeks Harga Konsumen dan tidak termasuk barang-barang tertentu (biasanya energi dan produk makanan). Metode lain termasuk perhitungan metode outlier, yang menghilangkan produk yang telah memiliki perubahan harga terbesar. Inflasi inti diperkirakan menjadi indikator yang mendasari inflasi jangka panjang.
Beberapa variasi pada inflasi juga perlu diperhatikan. Hiperinflasi adalah inflasi yang luar biasa cepat dan tinggi. Dalam kasus ekstrim, hal ini dapat menyebabkan kerusakan sistem moneter suatu negara. Salah satu contoh yang paling menonjol dari hiperinflasi terjadi di Jerman pada tahun 1923, ketika harga naik 2.500% dalam satu bulan, juga pada beberapa Negara Afrika seperti Zimbabwe beberapa tahun yang lalu.
Stagflasi adalah kombinasi dari tingginya angka pengangguran dan stagnasi ekonomi dengan inflasi. Hal ini terjadi di negara-negara industri pada 1970-an, ketika ekonomi yang buruk dikombinasikan dengan kenaikan harga minyak OPEC. Di ujung lain dari spektrum adalah deflasi, yang terjadi ketika tingkat harga umum jatuh. Ini adalah kebalikan dari inflasi.
B.  Efek Inflasi
Efek inflasi sangat luas dan beraneka ragam serta menurunkan tingkat kesejahteraan hidup masyarakat. Laju tingkat pertumbuhan inflasi yang tinggi akan merusak struktur ekonomi dan melemahkan kinerja perekonomian suatu negara.
Menurut Nopirin (1987 : 32) inflasi mempunyai efek sebagai berikut :
a.           Efek terhadap pendapatan ( Equity Effects)
Efek inflasi terhadap pendapatan bersifat tidak merata, ada yang mengalami kerugian terutama mereka yang berpenghasilan tetap dan ada pula kelompok yang mengalami keuntungan dengan adanya inflasi. Inflasi menguntungkan masyarakat yang pendapatannya ikut naik dengan adanya kenaikan harga, tetapi merugikan golongan masyarakat yang mempunyai pendapatan tetap. Hal ini disebabkan pada masa inflasi harga barang-barang dan jasa-jasa naik yang berarti turunnya nilai uang. Pihak-pihak yang mendapatkan keuntungan dengan adanya inflasi adalah mereka yang memperoleh kenaikan pendapatan dengan persentase yang lebih besar dari laju inflasi, atau mereka yang mempunyai kekayaan bukan uang dimana nilainya naik dengan persentase lebih besar dari laju inflasi.
b.          Efek terhadap efisiensi ( Efficiency Effects)
Inflasi dapat pula mengubah pola alokasi faktor-faktor produksi. Perubahan ini dapat terjadi melalui kenaikan permintaan akan berbagai macam barang yang kemudian dapat mendorong terjadinya perubahan dalam produksi beberapa barang tertentu. Dengan adanya inflasi permintaan akan barang tertentu mengalami kenaikan yang lebih besar dari barang lain, yang kemudian mendorong kenaikan produksi barang tersebut. Kenaikan produksi barang ini pada gilirannya akan merubah pola alokasi faktor produksi yang sudah ada.
c.           Efek terhadap output ( Output Effects )
Apabila laju inflasi sangat tinggi (hyper inflation) dapat menyebabkan penurunan output. Dalam keadaan inflasi yang tinggi, nilai uang riil turun dengan drastis, masyarakat cenderung tidak menyukai uang kas,  transaksi mengarah ke barter, yang biasanya diikuti dengan turunnya produksi barang.
B.  Dampak Inflasi terhadap Perekonomian
Dampak inflasi terhadap perekonomian yang pada akhirnya akan berpengaruh kepada tingkat kemakmuran masyarakat, berikut ini dampak negatif dari inflasi:
1.    Terhadap distribusi pendapatan ada pihak-pihak yang dirugikan, diantaranya
a.       Inflasi akan merugikan bagi mereka yang berpendapatan tetap, seperti; pegawai negeri.  Contoh, amir seorang pegawai negeri memperoleh gaji Rp. 60.000.000 setahun dan laju inflasi     10%. Bila penghasilan Amir tidak mengalami perubahan, maka ia akan mengalami penurunan     pendapatan riil sebesar 10% x Rp. 60.000.000 = Rp. 6.000.000.
b.      Kerugian akan dialami bagi mereka yang menyimpan kekayaan dalam bentuk uang tunai.
c.       Kerugian akan dialami para kreditur, bila bunga pinjaman yang diberikan lebih rendah dari     inflasi.
Di lain pihak ada yang diuntungkan dengan adanya inflasi:
- Orang yang persentase pendapatannya melebihi persentase kenaikan inflasi
- mereka yang memiliki kekayaan bukan dalam bentuk uang tunai, tetapi
  dalam bentuk barang atau emas.
2.      Dampak terhadap efisiensi, berpengaruh pada:
a.       Proses produksi dalam penggunaan faktor-faktor produksi menjadi tidak efesien ada saat terjadi inflasi.
b.      Perubahan daya beli masyarakat yang berdampak terhadap struktur permintaan masyarakat terhadap beberapa jenis barang.
3.      Dampak inflasi terhadap output (hasil produksi):
a.       Inflasi bisa menyebabkan kenaikan produksi. Biasanya dalam keadaan inflasi kenaikan harga   barang akan mendahului kenaikan gaji, hal ini yang menguntungkan produsen.
b.      Bila laju inflasi terlalu tinggi akan berakibat turunnya jumlah hasil produksi, dikarenakan nilai riil   uang akan turun dan masyarakat tidak senang memiliki uang tunai, akibatnya pertukaran   dilakukan antara barang dengan barang.
4.      Dampak inflasi terhadap pengangguran
Suatu negara yang berusaha menghentikan laju inflasi yang tinggi, berarti pada saat yang sama akan menciptakan pengangguran.
C.  Kesimpulan
Jadi dapat disimpulkan bahwa suatu perekonomian dapat perekonomian adalah perekonomian merupakan suatu bidang kegiatan manusia dalam rangka mencukupi kebutuhannya disamping alat pemuas kebutuhan yang terbatas. Hal tersebut dalam ilmu ekonomi menyangkut berbagai bidang antara lain permintaan, penawaran, produksi, distribusi barang dan jasa. 
Inflasi adalah suatu gejala naiknya harga secara terus-menerus (berkelanjutan) terhadap sejumlah barang. Kenaikan yang sifatnya sementara tidak dikatakan inflasi dan kenaikan harga terhadap satu jenis komoditi juga tidak dikatakan inflasi.
ADINDA RIZKI MENTARI ( 4EB18 / 20210166 )